BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Moh.
Surya (1997) : “belajar diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh
individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secarakeseluruhan, sebagai
hasil dari pengalaman individu itu
sendiri dalam berinteraksi dengan lingkungannya”. Witherington (1952) :
“belajar merupakan perubahan dalam kepribadianyang di manifestasikan sebagai
pola-pola respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,
pengetahuan dan kecakapan”. Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses
perubahan perilaku yangmuncul karena pengalaman”.
Wingkel,
1987 : “belajar. adalah suatu aktifitas
mental & psikis dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan perilaku pada diri sendiri.”Belajar adalah suatu proses/usaha sadar
yang dilakukan oleh individu untuk menghasilkan perubahan tingkah laku
baikdalam aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan nilai) maupun
psikomotor (keterampilan) sebagai hasil interaksinya dengan lingkungan untuk
mencapai tujuan tertentu. Sedangkan pembelajaran menurut Gagne dan Briggs (1979:3) : pembelajaran
adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang
berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi
dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal.
Dalam
pembelajaran tentunya terdapat asas serta prinsip-prinsip belajar yang merupakan
landasan berpikir,landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses belajar
mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta
didik.Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi
siswa maupaun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan. Berikut ini
prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961) adalah :1.
Prinsip Kesiapan (Readinees)Proses belajar dipengaruhi kesiapan siswa. Yang
dimaksud dengan kesiapan siswaialah kondisi yang memungkinkan ia dapat
belajar.2. Prinsip Motivasi (Motivation)Tujuan dalam belajar diperlukan untuk
suatu proses yang terarah. Motivasi adalahsuatu kondisi dari pelajar untuk
memprakarsai kegiatan, mengatur arah kegiatan itudan memelihara kesungguhan.3.
Prinsip Persepsi Seseorang cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaiman ia
memahami situasi.Persepsi adalah interpertasi tentang situasi yang hidup.
Setiap individu melihat duniadengan caranya sendiri yang berbeda dari yang
lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu.
BAB
II
PEMBAHASAN
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR
DAN ASAS PEMBELAJARAN
A.
Prinsip-prinsip Belajar
Prinsip-prinsip
belajar yang relatif berlaku umum berkaitan dengan perhatian dan motivasi,
keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan
dan penguatan, serta perbedaan individual.
1.Perhatian dan motivasi
Perhatian
mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar. Perhatian terhadap pelajaran
akan timbul pada siswa apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu
yang dibutuhkan, diperlukan untuk belajar lebih lanjut atau diperlukan dalam
kehidupan sehari-hari, akan membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya.
Motivasi adalah tenaga yang digunakan untuk menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Menurut H.L. Petri, “motivation is the concept we use when
we describe the force action on or within an organism to initiate and direct
behavior”. Motivasi data merupakan tujuan pembelajaran. Sebagai alat, motivasi
merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar
sebelumnya yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang
pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan.
Motivasi
erat kaitannya dengan minat.siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang
studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian timbul
motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Motivasi juga dipengaruhi
oleh nilai-nilai yang di anggap penting dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut
mengubah tingkah laku dan motivasinya.Motivasi dapat bersifat internal, artinya
datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni datang dari
orang lain. Motivasi dibedakan menjadi dua:
1.
Motif intrinsik.
Motif
intrinsik adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan.
Sebagai contoh, seorang siswa dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran
di sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya.
2. Motif
ekstrinsik.
Motif
ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya
tetapi menjadi penyerta. Contohnya siswa belajar dengan sungguh-sungguh bukan
dikarenakan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh
keinginan naik kelas atau mendapatkan ijazah. Keinginan naik kelas atau mendapatkan
ijazah adalah penyerta dari keberhasilan belajar.
Motif
ekstrinsik dapat berubah menjadi motif intrinsik yang disebut “transformasi
motif”. Sebagai contoh, seseorang belajar di Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK) karena menuruti keinginan orang tuanya yang menginginkan
anaknya menjadi seorang guru. Mula-mula motifnya adalah ekstrinsik, yaitu untuk
menyenangkan hati orang tuanya,tetapi setelah belajar beberapa lama di LPTK ia
menyenangi pelajaran-pelajaran yang digelutinya dan senang belajar untuk
menjadi guru. Jadi motif pada siswa itu semula ekstrinsik menjadi intrinsik.
2.
Keaktifan
Belajar tidak dapat dipaksakan oleh orang lain
dan juga tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin
terjadi apabila anak aktif mengalaminya sendiri. John Dewey mengemukakan bahwa
belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya
sendiri, maka inisiatif harus datang sendiri.Guru sekedar pembimbing dan
pengarah.Menurut teori kognitif, belajar
menunjukkan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa mengolah informasi, tidak
sekedar menyimpannya saja tanpa mengadakan transformasi. Menurut teori ini anak
memiliki sifat aktif, konstruktif dan mampu merencanakan sesuatu. Dalam proses
balajar mengajar anak mampu mengidantifikasi, merumuskan masalah, mencari dan
menemukan fakta, menganalisis, menafsirkan dan menarik kesimpulan.
Dalam
setiap proses belajar siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan itu dapat
berupa kegiatan fisik dan kegiatan psikis. Kegiatan fisik bisa berupa membaca,
mendengar, menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya.
Sedangkan kegiatan psikis misalnya menggunakan khasanah pengetahuan yang
dimiliki dalam memecahkan masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep
dengan yang lain, menyimpulkan hasil percobaan dan kegiatan psikis yang lain
.
3. Keterlibatan langsung/berpengalaman
3. Keterlibatan langsung/berpengalaman
Menurut
Edgar Dale, dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerucut
pengalamannya, mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar dari
pengalaman langsung. Belajar secara langsung dalam hal ini tidak sekedar
mengamati secara langsung melainkan harus menghayati, terlibat langsung dalam
perbuatan, dan bertanggung jawab terhadap hasilnya. Belajar harus dilakukan
siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok dengan cara memecahkan
masalah (problem solving). Guru bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan siswa di dalam belajar tidak hanya keterlibatan fisik semata,
tetapi juga keterlibatan emosional, keterlibatan dengan kegiatan kognitif dalam
pencapaian perolehan pengetahuan, dalam penghayatan dan internalisasi
nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan
latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.
4. Pengulangan
Menurut teori psikologi daya, belajar adalah melatih
daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas mengamat, menanggap,
mengingat, mengkhayal, merasakan, berpikir, dan sebagainya. Dengan mengadakan
pengulangan maka daya-daya tersebut akan berkembang.
Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”, Thorndike mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengamatan-pengamatan itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.
Pada teori psikologi Conditioning, respons akan timbul bukan karena oleh stimulus saja tetapi oleh stimulus yang di kondisikan, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas, mobil berhenti pada saat lampu merah.Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran.
Berangkat dari salah satu hukum belajarnya “law of exercise”, Thorndike mengemukakan bahwa belajar ialah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons, dan pengulangan terhadap pengamatan-pengamatan itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.
Pada teori psikologi Conditioning, respons akan timbul bukan karena oleh stimulus saja tetapi oleh stimulus yang di kondisikan, misalnya siswa berbaris masuk ke kelas, mobil berhenti pada saat lampu merah.Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Walaupun kita tidak dapat menerima bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut, karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran.
5. Tantangan
Teori
Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi
belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi siswa
menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan
yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan
itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut.Tantangan yang dihadapi
dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan belajar
yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat siswa tertantang untuk
mempelajarinya.
Penggunaan metode eksperimen, inkuiri,
diskoveri juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih giat
dan sungguh-sungguh. Penguatan positif maupun negatif juga akan menantang siswa
dan menimbulkan motif untuk memperoleh ganjaran atau terhindar dari hukum yang
tidak menyenangkan.
6. Balikan dan penguatan
Prinsip
belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh
teori belajar Operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori
conditioning yang diberi kondisi adalah stimulusnya, maka pada operant
conditioning yang diperkuat adalah responnya. Kunci dari teori belajar ini
adalah law of effectnya Thorndike.Siswa belajar sungguh-sungguh dan mendapatkan
nilai yang baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu mendorong anak untuk belajar
lebih giat lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau
penguatan positif. Sebaliknya, anak yang mendapat nilai yang jelek pada waktu
ulangan akan merasa takut tidak naik kelas. Hal ini juga bisa mendorong anak
untuk belajar lebih giat. Inilah yang disebut penguatan negatif atau escape
conditioning.Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode
penemuan dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan
terjadinya balikan dan penguatan.
7.
Perbedaan individu
Siswa
merupakan individual yang unik, artinya tidak ada dua orang siswa yang sama
persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan
belajar ini berpengaruh pada cara dan hasil belajar siswa. Sistem pendidikan
klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang memperhatikan masalah perbedaan
individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan melihat siswa
sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama,
demikian pula dengan pengetahuannya.
Pembelajaran
klasikal yang mengabaikan perbedaan individual dapat diperbaiki dengan beberapa
cara, misalnya:
•
Penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang bervariasi
• Penggunaan metode instruksional
•
Memberikan tambahan pelajaran atau pengayaan pelajaran bagi siswa pandai dan
memberikan bimbingan belajar bagi anak-anak yang kurang
•
Dalam memberikan tugas, hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru tampak dalam setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung.
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru tampak dalam setiap kegiatan perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung.
a. Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Siswa
Siswa
sebagai ”primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran, dengan alasan
apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip-prinsip belajar.
1) Perhatian dan motivasi
Siswa
dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua rangsangan yang mengarah ke
arah pencapaian tujuan belajar. Siswa diharapkan selalu melatih inderanya untuk
memperhatikan rangsangan yang muncul dalam proses pembelajaran.
Peningkatan/pengembangan minat ini merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner, 1984:373).
Implikasi
prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa bahwa motivasi
belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan mengembangkan secara
terus-menerus. Untuk dapat membangkitkan dan mengembangkan motivasi belajar
mereka secara terus-menerus, siswa dapat melakukannya dengan
menentukan/mengetahui tujuan belajar yang hendak dicapai, menanggapai secara
positif pujian/dorongan dari orang lain, menentukan target/sasaran penyelesaian
tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya. Dari contoh-contoh perilaku siswa
untuk meningkatkan dan membangkitkan motivasi belajar, dapat ditandai bahwa
perilaku-perilaku tersebut bersifat psikis.
2) Keaktifan
Sebagai
”primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa
dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk
dapat memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, pebelajar
dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual dan emosional. Implikasi prinsip
keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber
informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari
suatu reaksi kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan perilaku sejenis
lainnya. Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut
keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran.
3) Keterlibatan langsung/berpengalaman
Hal
apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak ada
seorangpun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies, 1987:32).
Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan
mengerjakan segala tugas belajar yang diberikan kepada mereka. Bentuk-bentuk
perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan langsung bagi siswa,
misalnya siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa melakukan reaksi kimia,
dan perilaku sejenisnya. Perilaku keterlibatan siswa secara langsung dalam
kegiatan belajar pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan keaktifan siswa.
4) Pengulangan
Penguasaan
secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih
berarti (Davies, 1987:32). Dari pernyataan inilah pengulangan masih diperlukan
dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa
adalah kesadaran siswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang
untuk satu macam permasalahan. Dengan kesadaran ini, diharapkan siswa tidak
merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran
yang merupakan implikasi prinsip pengulangan unsur-unsur kimia setiap valensi,
mengerjakan soal-soal latihan, menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau
menghafal tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.
5) Tantangan
Prinsip belajar ini bersesuaian dengan
pernyataan bahwa apabila siswa diberikan tanggung jawab untuk mempelajari
sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk belajar, ia akan belajar dan mengingat
lebih baik (Davies, 1987:32). Hal ini berarti siswa selalu menghadapi tantangan
untuk memperoleh, memproses dan mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan
pembelajaran. Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan
dimilikinya kesadaran pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu
memperoleh, memproses dan mengolah pesan. Selain itu, siswa juga harus memiliki
keingintahuan yang besar terhadap segala permasalahan yang dihadapinya.
Bentuk-bentuk perilaku siswa yang merupakan implikasi dari prinsip tantangan
ini diantaranya adalah melakukan eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing
ataupun mandiri, atau mencari tahu pemecahan suatu masalah.
6) Balikan dan penguatan
Siswa
selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan, apakah benar
atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan tentang
hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi
dirinya sendiri. Seorang siswa belajar lebih banyak bilamana setiap langkah
segera diberikan penguatan (reinforcement) (Davies, 1987:32). Hal ini timbul
karena kesadaran adanya kebutuhan untuk memperoleh balikan dan sekaligus
penguatan bagi setiap kegiatan yang dilakukannya. Untuk memperoleh balikan
penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang memungkinkan diantaranya adalah
dengan segera mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan
terhadap skor/nilai yang dicapai, atau menerima teguran dari guru/orang tua
karena hasil belajar yang jelek.
7) Perbedaan individual
Setiap
siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan yang
lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya
sendiri dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar
(Davies, 1987:32). Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain akan
membantu siswa menentukan cara belajar dan sasaran belajar bagi dirinya
sendiri.
b.
Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar bagi Guru
Guru
sebagai orang kedua dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari adanya
prinsip-prinsip belajar. Guru sebagai penyelenggara dan pengelola kegiatan
pembelajaran terimplikasi oleh adanya prinsip-prinsip belajar ini.
1) Perhatian dan motivasi
Implikasi prinsip perhatian bagi guru tampak
pada perilaku-perilaku sebagai berikut:
•
Guru menggunakan metode secara bervariasi
•
Guru menggunakan media sesuai dengan tujuan belajar dan materi yang diajarkan
•
Guru menggunakan gaya bahasa yang tidak monoton
•
Guru mengemukakan pertanyaan-pertanyaan membimbing (direction question)
Sedangkan
implikasi prinsip motivasi bagi guru tampak pada perilaku-perilaku yang
diantaranya adalah:
•
Memilih bahan ajar sesuai minat siswa
• Menggunakan metode dan teknik mengajar yang
disukai siswa
•
Mengoreksi sesegera mungkin pekerjaan siswa dan sesegera mungkin memberitahukan
hasilnya kepada siswa
•
Memberikan pujian verbal atau non verbal terhadap siswa yang memberikan respons
terhadap pertanyaan yang diberikan
•
Memberitahukan nilai guna dari pelajaran yang sedang dipelajari siswa
2)
Keaktifan
Peran
guru mengorganisasikan kesempatan belajar bagi masing-masing siswa berarti
mengubah peran guru dari bersifat didaktis menjadi lebih bersifat
mengindividualis, yaitu menjamin bahwa setiap siswa memperoleh pengetahuan dan
keterampilan di dalam kondisi yang ada (Sten, 1988:224). Hal ini berarti pula
bahwa kesempatan yang diberikan oleh guru akan menuntut siswa selalu aktif
mencari, memperoleh dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat menimbulkan
keaktifan belajar pada diri siswa, maka guru di antaranya dapat melaksanakan
perilaku-perilaku berikut:
•
Menggunakan multimetode dan multimedia
•
Memberikan tugas secara individual dan kelompok
•
Memberikan kesempatan pada siswa melaksanakan eksperimen dalam kelompok kecil
(beranggota tidak lebih dari 3 orang)
•
Memberikan tugas untuk membaca bahan belajar, mencatat hal-hal yang kurang
jelas
•
Mengadakan tanya jawab dan diskusi
3)
Keterlibatan langsung/berpengalaman
Untuk dapat melibatkan siswa secara fisik,
mental-emosional dan intelektual dalam kegiatan pembelajaran, maka guru
hendaknya merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan
mempertimbangkan karakteristik siswa dan karakteristik isi pelajaran. Perilaku
sebagai implikasi prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman diantaranya
adalah:
•
Merancang kegiatan pembelajaran yang lebih banyak pada pembelajaran individual
dan kelompok kecil
•
Mementingkan eksperimen langsung oleh siswa dibandingkan dengan demonstrasi
•
Menggunakan media yang langsung digunakan oleh siswa
•
Memberikan tugas kepada siswa untuk mempraktekkan gerakan psikomotorik yang
dicontohkan
• Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber informasi di luar kelas atau luar sekolah
• Melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran
Implikasi lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai manajer/pengelola kegiatan pembelajaran yang mampu mengarahkan, membimbing dan mendorong siswa ke arah tujuan pengajaran yang ditetapkan.
• Melibatkan siswa mencari informasi/pesan dari sumber informasi di luar kelas atau luar sekolah
• Melibatkan siswa dalam merangkum atau menyimpulkan informasi pesan pembelajaran
Implikasi lain dari adanya prinsip keterlibatan langsung/berpengalaman bagi guru adalah kemampuan guru untuk bertindak sebagai manajer/pengelola kegiatan pembelajaran yang mampu mengarahkan, membimbing dan mendorong siswa ke arah tujuan pengajaran yang ditetapkan.
4)
Pengulangan
Implikasi
prinsip pengulangan bagi guru adalah mampu memilihkan antara kegiatan
pembelajaran yang berisi pesan yang membutuhkan pengulangan dengan yang tidak
membutuhkan pengulangan. Pengulangan terutama dibutuhkan oleh pesan-pesan
pembelajaran yang harus dihafalkan secara tetap tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Selain itu, pengulangan juga diperlukan terhadap pesan-pesan pembelajaran yang
membutuhkan latihan. Perilaku guru yang merupakan implikasi prinsip pengulangan
di antaranya:
•
Merancang pelaksanaan pengulangan
• Mengembangkan/merumuskan soal-soal latihan
•
Mengembangkan petunjuk kegiatan psikomotorik yang harus diulang
•
Mengembangkan alat evaluasi kegiatan pengulangan
•
Membuat kegiatan pengulangan yang bervariasi
5)
Tantangan
Apabila
guru menginginkan siswa selalu berusaha mencapai tujuan, maka guru harus
memberikan tantangan pada siswa dalam kegiatan pembelajarannya. Tantangan dalam
kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan oleh guru melalui bentuk kegiatan,
bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan pembelajaran. Perilaku
guru yang merupakan implikasi prinsip tantangan diantaranya adalah:
• Merancang dan mengelola kegiatan eksperimen yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukannya secara individual atau dalam kelompok kecil (3-4 orang)
•
Memberikan tugas pada siswa memecahkan masalah yang membutuhkan informasi dari
orang lain di luar sekolah sebagai sumber informasi
•
Menugaskan kepada siswa untuk menyimpulkan isi pelajaran yang selesai disajikan
• Mengembangkan bahan pembelajaran (teks, hand
out, modul, dan yang lain) yang memperhatikan kebutuhan siswa untuk mendapatkan
tantangan di dalamnya, sehingga tidak harus semua pesan pembelajaran disajikan
secara detail tanpa memberikan kesempatan siswa mencari dari sumber lain.
•
Membimbing siswa untuk menemukan fakta, konsep, prinsip, dan generalisasi
sendiri
•
Guru merancang dan mengelola kegiatan diskusi untuk menyelenggarakan
masalah-masalah yang disajikan dalam topik diskusi
6)
Balikan dan penguatan
Balikan
dapat diberikan secara lisan maupun tertulis, baik secara individual ataupun
kelompok klasikal. Guru sebagai penyelenggara kegiatan pembelajaran harus dapat
menentukan bentuk, cara, serta kapan balikan dan penguatan diberikan. Agar
balikan dan penguatan bermakna bagi siswa, guru hendaknya memperhatikan
karakteristik siswa. Implikasi prinsip balikan dan penguatan bagi guru,
berwujud perilaku-perilaku yang diantaranya adalah:
•
Memberitahukan jawaban yang benar setiap kali mengajukan pertanyaan yang telah
dijawab siswa secara benar ataupun salah
•
Mengoreksi pembahasan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa pada waktu
yang telah ditentukan
•
Memberikan catatan-catatan pada hasil kerja siswa (berupa makalah, laporan,
klipping pekerjaan rumah) berdasarkan hasil koreksi guru terhadap hasil kerja
pembelajaran
•
Membagikan lembar jawaban tes pelajaran yang telah dikoreksi oleh guru,
disertai skor dan catatan-catatan bagi pebelajar
•
Mengumumkan atau mengkonfirmasikan peringkat yang diraih setiap siswa
berdasarkan skor yang dicapai dalam tes
•
Memberikan anggukan atau acungan jempol atau isyarat lain kepada siswa yang
menjawab dengan benar pertanyaan yang disajikan guru.
•
Memberikan hadiah/ganjaran kepada siswa yang berhasil menyelesaikan tugas
7)
Perbedaan individual
Setiap
guru tentunya harus menyadari bahwa menghadapi 30 siswa dalam satu kelas,
berarti menghadapi 30 macam keunikan atau karakteristik. Selain
karakteristik/keunikan kelas, guru harus menghadapi 30 siswa yang berbeda
karakteristiknya satu dengan lainnya. Konsekuensi logis adanya hal ini, guru
harus mampu melayani setiap siswa sesuai karakteristik mereka orang per orang.
Implikasi prinsip perbedaan individual bagi guru berwujud perilaku-perilaku
yang diantaranya adalah:
•
Menentukan penggunaan berbagai metode yang diharapkan dapat melayani kebutuhan
siswa sesuai karakteristiknya
•
Merancang pemanfaatan berbagai media dalam menyajikan pesan pembelajaran
• Mengenali karakteristik setiap siswa
sehingga dapat menentukan perlakuan pembelajaran yang tepat bagi siswa yang
bersangkutan
•
Memberikan remediasi ataupun pertanyaan kepada siswa yang membutuhkan
Ø Asas-Asas Pembelajaran
Pada bagian ini diuraikan 14
asas pembelajaran yang dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangkan
program pembelajaran inovatif. Keempat belas asas tersebut adalah:
1.
Lima prinsip dasar dalam pemenuhan hak
anak: (a) non-diskriminasi, (b) kepentingan terbaik bagi anak (best
interests of the child), (c) hak untuk hidup dan berkembang (right to
life, continuity of life and to develop), (d) hak atas
perlindungan (right to protection), (e) penghargaan terhadap pendapat
anak (respect for the opinions of children).
2.
Belajar bukanlah konsekuensi otomatis
dari penuangan informasi ke dalam benak siswa.
3.
Belajar memerlukan keterlibatan mental
dan kerja siswa sendiri.
4.
Yang bisa membuahkan hasil belajar yang
langgeng hanyalah kegiatan belajar aktif.
5.
Untuk bisa mempelajari sesuatu dengan
baik, kita perlu mendengar, melihat, mengajukan pertanyaan, dan membahasnya
dengan orang lain.
6.
Aktivitas pembelajaran pada diri siswa
bercirikan: (a) yang saya dengar, saya lupa; (b) yang saya
dengar dan lihat, saya sedikit ingat; (c) yang saya dengar,
lihat, dan pertanyakan atau diskusikan dengan
orang lain, saya mulai pahami; (d) yang saya dengar, lihat, bahas, dan terapkan,
saya dapatkan pengetahuan dan keterampilan; dan (e) yang saya ajarkan kepada
orang lain, saya kuasai.
7.
John Holt (1967) proses belajar akan
meningkat jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal: (a) mengemukakan kembali
informasi dengan kata-kata sendiri, (b) memberikan contoh, (c) mengenalinya
dalam bermacam bentuk dan situasi, (d) melihat kaitan antara informasi itu
dengan fakta atau gagasan lain, (e) menggunakannya dengan beragam cara, (f)
memprediksikan sejumlah konsekuensinya, (g) menyebuitkan lawan atau
kebalikannya.
8.
Ada 9 konteks yang melingkupi siswa
dalam belajar: (a) tujuan, (b) isi materi,
(c) sumber belajar (sumber belajar bagaimanakah yang dapat
dimanfaatkan), (d) target siswa (siapa yang akan belajar), (e) guru, (f)
strategi pembelajaran, (g) hasil (bagaimana hasil pembelajaran
akan diukur), (h) kematangan (apakah siswa telah siap dengan hadirnya sebuah
konsep atau pengetahuan), (i) lingkungan (dalam lingkungan
yang bagaimana siswa belajar).
9.
Kata kunci pembelajaran agar bermakna:
(a) real-world learning, (b) mengutamakan pengalaman nyata, (c)
berpikir tingkat tinggi, (d) berpusat pada siswa, (e) siswa aktif, kritis, dan
kreatif, (f) pengetahuan bermakna dalam kehidupan, (g) dekat dengan kehidupan
nyata, (h) perubahan perilaku, (i) siswa praktik, bukan menghafal, (j) learning,
bukan teaching, (k) pendidikan bukan pengajaran, (l) pembentukan
manusia, (m) memecahkan masalah, (n) siswa acting, guru mengarahkan,
(o) hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan tes.
10.
Pembelajaran yang memperhatikan dimensi
auditori dan visual, pesan yang diberikan akan menjadi lebih kuat.
11.
Otak tidak sekadar menerima informasi,
tetapi juga mengolahnya melalui membahas informasi dengan orang lain dan juga
mengajukan pertanyaan tentang hal yang dibahas.
12.
Otak kita perlu mengaitkan antara apa
yang diajarkan kepada kita dengan apa yang telah kita ketahui dan dengan cara
kita berpikir.
13.
Proses belajar harus mengakomodasi
tipe-tipe belajar siswa (auditori, visual, kinestetik)
- Resiprositas (kebutuhan mendalam manusia untuk merespon orang lain dan untuk bekerja sama) merupakan sumber motivasi yang bisa dimanfaatkan untuk menstimulasi kegiatan belajar.
BAB
III
PENUTUP
Pembelajaran adalah suatu sistem
yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian
peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan
mendukung terjadinya prosesbelajar siswa yang bersifat internal. Gagne dan
Briggs (1979:3)
Prinsip belajar adalah landasan
berpikir,landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses belajar mengajar
dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan pesertadidik.Prinsip ini
dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupun bagi
guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.
Berikut ini prinsip-prinsip belajar
yang dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961) adalah :1. Prinsip Kesiapan
(Readinees) Proses belajar dipengaruhi kesiapan siswa. Yang dimaksud dengan
kesiapan siswaialah kondisi yang memungkinkan ia dapat belajar 2. Prinsip
Motivasi (Motivation)Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang
terarah. Motivasi adalahsuatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan,
mengatur arah kegiatan itudan memelihara kesungguhan 3. Prinsip
PersepsiSeseorang cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaiman ia memahami
situasi. Persepsi adalah interpertasi tentang situasi yang hidup. Setiap
individu melihat duniadengan caranya sendiri yang berbeda dari yang lain.
Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu.
Secara umum, prinsip-prisip belajar
yaitu :1) Perhatian dan Motivasi 2) Keaktifan 3) Keterlibatan langsung atau
pengalaman 4) Pengulangan 5) Tantangan 6) Balikan dan penguatan (law of effect)
7) Perbedaan individual.
DAFTAR
PUSTAKA
http://blog.elearning.unesa.ac.id/pdf-archive/prinsip-belajar-dan-asas-asas-pembelajaran-dalam-bentuk-pdf.pd
Comments
Post a Comment