Monday,
June 20, 2016
6:21 PM
Semburat putih di
kejauhan
Dan rintik yang
mendekat
15 des 2015
Angin dingin itu
menyapaku ketenangan yang sepi tapi jauh, rintik berirama yang menjadi lagu
manis disiang hari, ketika awan menutup matahari. Bukan hitam, atau kelabu,
kilau langit diluar begitu putih seperti
bentangan kabut raksasa yang rata menutup angkasa. Aku terdiam dalam
keramaian pikiranku sendiri, diluar dari dunia yang bergerak disekitarku,
diluar dari keramaian dunia disekitarku.
Menyapa diriku dalam
gelab itu, sendiri… dia orang yang berkali kali terjatuh, berusaha menahan air
mata yang terlanjur jatuh, luka-luka itu masih terasa, bagai batu-batu keras
yang mengikis hati dan hari-harinya.
Para dedaunan hijau
menari semakin dengan gerakan terpaksa, ranting-ranting coklat kecil itupun
ikut meramaikan musik disiang hari itu, di sapu oleh angin yang semakin tidak
konsisten. Pelan… ada nada dari kejauhan
yang halus tapi memukau, semburat putih dikejauhan dan rintik yang semakin
mendekat.
Hmm kuterpaku oleh
bukit yang jauh disana…kesepian yang sama dan keramaian yang sama. Kontras
dengan suasana gua gelab, tempatku bersembunyi dan menahan air mata.
Nada dari
kejauhan,.. Dan air mata yang akhirnya jatuh bersama dengan senyumnya yang
terkembang.
Gua itu bisa
runtuh…, runtuh dan menimpanya, tapi bagai batu yang tegar dia bangkit dan
menjadi permata.
#mungkin hujan ini mengingatkanku hari itu, hmm its not it really important memory, but...
hmm hari yang terasa begitu jauh tapi, juga tak terlalu lama kebelakang. menikmati hujan yang datang sekaligus rasa syukur karna hujanpun turun di waktu itu, keramaian sekaligus kesenyapan tempatku melarikan diri, dan berkata pada diriku sendiri tak apa.... tak apa walau hatiku terasa hancur, tak apa walau semua beban itu terasa seberat batu besar, tak apa walau luka itu menahan air matanya, tak apa tersenyumlah...Tuhan itu baik.
#2015memory
Comments
Post a Comment