Skip to main content

Etika dan 5 Kecerdasaan


PENDAHULUAN

Kenapa ada orang disebut lebih cerdas dari yang lain ? Ketika seorang anak usia 2
tahun dapat mengeja sederetan huruf pembentuk kata, bahkan kalimat, dengan baik
dan benar, serta merta orang tua dan lingkungannya menyebut ia “anak cerdas”.
Sederhana dasar yang dipakai, banyak anak lain dalam usia tersebut sama sekali
belum mampu melakukan hal itu.

Derasnya laju informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi memicu dan memacu setiap
orang untuk menjadi lebih cerdas. Baik oleh diri sendiri maupun – dan ini yang
tampak sangat menonjol – orangtua-orangtua yang berlomba “mencerdaskan” anak-
anaknya, supaya mampu bersaing. Hiruk pikuk orang berburu kursus, paket latihan,
drilling program, dan sebagainya. Apa esensi yang hendak ditangkap ? Mungkin
betul, demi meningkatkan – jika mungkin semua – kecerdasan. Namun, barang apa
itu ?
Memahami Kecerdasan                                                          
Sejak dilakukan studi dan penelitian intensif, hal penting tentang kecerdasan
(intelligence) dicerminkan oleh berbagai kontroversi pengukuran. Seperti juga pada
barang lain, kontroversi ini tidak pernah berhenti, bahkan sampai sekarang.
David Wechsler (1939) mendefinisikan kecerdasan sebagai kumpulan kapasitas
seseorang untuk bereaksi serah dengan tujuan, berpikir rasional dan mengelola
lingkungan secara efektif.



PEMBAHASAN

                         
AQ (ADVERSITY QUOTIENT)
Kecerdasan dalam menghadapi masalah

Selain Edison, kita mengenal Steve Jobs (Apple Computer, Pixar Studios), Bill Gates(Microsoft) dan sederet nama lainnya. Dalam konteks Indonesia, saya pernah berbincang-bincang dengan Kafi Kurnia, salah seorang konsultan pemasaran terbaik Indonesia. Dia mata Kafi, salah seorang pengusaha Indonesia yang memiliki AQ tertinggi adalah Ny. Meneer, yang perusahaan jamunya terus tumbuh di berbagai zaman Indonesia sejak zaman Belanda. Di zaman modern, saya pribadi menganggap Rusdi Kirana, yang berhasil membuat standar baru dalam industri penerbangan,sebagai salah seorang yang memiliki AQ tinggi.         

Apakah adversity quotient (AQ) itu ? Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz. Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah. Untuk memberikan gambaran, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Dalam hal ini, Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian : quitter (yang menyerah), camper (berkemah di tengah perjalanan), dan climber (pendaki yang mencapai puncak). Para quitter adalah para pekerja yang sekadar untuk bertahan hidup. Para camper labih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang beresiko, tetapi tetap mengambil resiko yang terukur dan aman. Adapun para climber, yakni mereka yang dengan segala keberaniannya menghadapi masalah

Adversity Qountient adalah kemampuan / kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup resiko, akan menuntaskan pekerjaannya. Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata lain, AQ membedakan antara para climber, camper dan quitter. Para climber inilah yang berhasil menggerakkan perekonomian.Paul G. Stoltz, merinci AQ berdasarkan penelitiannya :
a. AQ Tingkat “Quitters” (Orang-orang yang Berhenti)
Tingkatan AQ paling rendah yakni orang yang langsung menyerah ketika
menghadapi kesulitan hidup. Orang yang tidak berikhtiar dan hanya berkeluh
kesah menghadapi penderitaan kemiskinan dan lain-lain.
b. AQ Tingkat “Campers” (Orang yang Berkemah)
Campers adalah AQ tingkat bawah.
Awalnya giat mendaki / berusaha menghadapi kesulitan hidup, ditengah perjalanan mudah merasa cukup dan mengakhiri pendakian atau usahanya. Contoh : orang yang sudah merasa cukup dengan menjadi sarjana, merasa sukses bila memiliki jabatan dan materi.
c. AQ Tingkat “Climbers” (Orang yang Mendaki)
Climbers adalah pendaki sejati. Orang yang seumur hidup mendaki mencari hakikat kehidupan menuju kemuliaan manusia dunia dan akhirat.
Rentang AQ meliputi tiga (3) golongan :
1. AQ rendah (0-50)
2. AQ sedang (95-134)
3. AQ tinggi (166-200)
Kabar baik kita semua adalah bawah AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat diberikan. AQ ternyata bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Di banyak perusahaan yang dilatihnya, Stoltz berhasil melihat peningkatan kinerja – dalam berbagai ukuran – para karyawannya.
Di sebuah perusahaan farmasi multinasional, Stoltz mendapatkan fakta bahwa peningkatan AQ para karyawan, membuat perusahaan lebih mudah melakukan perubahan strategis. Padahal kita semua mafhum, banyak perubahan strategis yang mahal biayanya karena resistensi para karyawannya.

Dunia kerja adalah dunia yang penuh dengan tantangan dan rintangan, karenanya
sanggupkah kita menjalaninya ? sebagai pelaksana profesi yang ingin menjadi
seorang yang profesional hendalah menetapkan dihati bahwa “Saya adalah pendaki
sejati, yang akan mengarungi semua tantangan dan rintangan yang ada”.
Namun satu hal yang perlu kita yakini bersama bahwa tidak ada manusia yang
sempurna, tidak ada jalan yang lurus mulus. Setiap individu mempunyai kelebihan
dan kekurangan dalam dirinya. Hambatan dan peluang akan ditemui dalam mencapai
cita-cita masa depan. Analisis SWOT merupakan suatu teknik yang dapat digunakan
untuk menelaah tingkat keberhasilan pencapaian cita-cita/karier.
“S” Strenght (Kekuatan), adalah sebuah potensi yang ada pada diri sendiri yang
mendukung cita-cita / karier.
“W” Weakness (Kelemahan), adalah seluruh kekurangan yang ada pada diri sendiri
dan kurang mendukung cita-cita/ karier.
“O” Opportunity, (Peluang), adalah segala sesuatu yang dapat menunjang
keberhasilan cita-cita/karier.
“T” Traits (Ancaman), adalah segala sesuatu yang dapat menggagalkan rencana cita-
cita/karier yang berasal dari diri sendiri atau lingkungan.
Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan Zero Mind Proces; melepas belenggu
mental, maka emosi terkendali, akal/logika berpikir terjadi ketenangan batin, berserah
diri kepada Tuhan. Maka potensi energi dan nilai spiritual muncul dan bangkit,
tercipta dalam bentuk aplikasi nyata.


Ø  Bagaimana menghadapi masalah
Bukan apa yang terjadi pada Anda yang penting, adalah bagaimana Anda bereaksi terhadap apa yang terjadi pada Anda, terutama ketika Anda dihadapkan dengan masalah tak terduga.Berikut adalah beberapa pengamatan kita telah mendapatkan dari bekerja dengan orang-orang sukses selama bertahun-tahun.
Melihat ke arah mana Anda inginkan.. Apa pun menantang Anda wajah, fokus pada masa depan bukan pada masa lalu. Alih-alih khawatir tentang siapa melakukan apa dan siapa yang harus disalahkan, fokus di mana Anda ingin berada dan apa yang ingin Anda lakukan. Dapatkan gambaran mental yang jelas tentang hasil yang ideal sukses Anda, dan kemudian mengambil tindakan apapun yang Anda bisa untuk mulai bergerak ke arah ituDapatkan pikiran Anda, pikiran Anda, dan citra mental Anda pada masa depan.
. Pikirkan Tentang Solusi. Ketika Anda menghadapi kesulitan, fokus pada kemungkinan solusi bukan pada masalahBerpikir dan berbicara tentang solusi ideal untuk halangan atau kemunduran, bukan membuang-buang waktu dan mengulangi merenungkan masalah.. Solusi secara inheren positif, sedangkan masalah secara inheren negatif.. Instan yang Anda mulai berpikir dalam hal solusi, Anda menjadi positif dan konstruktif.
. Diperhatikan yang Baik, bahkan jika itu pelajaran yang dapat dipetik.. Ini mungkin satu sulit tetapi mencari sesuatu yang baik tersembunyi di dalam setiap kesulitan atau tantangan. Melihat ke arah apa yang Anda dapat belajar dan melakukan dalam waktu yang berbeda berikutnya Memahami bahwa apa pun situasi yang Anda hadapi saat ini adalah persis situasi yang tepat Anda perlu akhirnya menjadi sukses.. Gunakan untuk membantu Anda berkembang dan bertumbuh Kita sering belajar lebih melalui kesalahan dari yang kita lakukan dengan keberhasilan kami, mengetahui bahwa, merangkul situasi sebagai kesempatan untuk belajar bukan suatu situasi untuk rel terhadap.
Memiliki gelas penuh setengah.Sikap Mental Positif sangat diperlukan untuk keberhasilan Anda Anda dapat sebagai positif yang Anda inginkan jika Anda hanya akan berpikir tentang masa depan, fokus pada solusi dan mencari kebaikan. Jika Anda melakukan apa yang orang sukses lain lakukan, jika Anda menggunakan pikiran Anda untuk melakukan kontrol mental atas situasi, Anda akan sangat positif dan ceria dari waktu. Dan Anda akan menuai keuntungan yang dinikmati oleh semua orang sukses.
Berikut adalah tiga langkah yang dapat diambil segera untuk menempatkan ide-ide ke dalam tindakan;
Pertama, menjadi berorientasi solusi dengan setiap kesulitan yang Anda hadapi Biasakan mencari jawaban atas pertanyaan Anda, solusi untuk masalah Anda.
Kedua, mencari pelajaran berharga dalam setiap kesulitan. Buatlah daftar dari setiap ide atau wawasan yang Anda dapat memperoleh dari setiap kemunduran atau kesulitan.
Ketiga, pikirkan di atas kertas. Luangkan waktu untuk menuliskan setiap detail dari masalah, dan kemudian mengambil langkah berikutnya yang paling logis untuk menyelesaikannya.




IQ(INTELEGENT QUOTIENT) dan hubungannya dengan etika
Kecerdasan ini ditemukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masanya saat itu, dan ternyata masih juga di Indonesia saat ini. Bahkan untuk masuk ke militer pada saat itu, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan dalam penerimaan masuk ke militer.


Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis dengan “What I Think“.Dengan memiliki IQ yang baik dan terstandar maka masing-masing individu memiliki kemantapan pemahaman tentang potensi diri dan pengembangannya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk peranannya sebagai pelaksana / pelaku profesi.
Dari banyak penelitian didapatkan hasil atau pendapat bahwa individu yang mempunyai IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ rendah justru sangat perprestasi.Hal ini dikarenakan individu yang mempunyai IQ tinggi seringkali memiliki sifat-sifat menyesatkan sebagai berikut :
·         Yakin tahu semua hal.

·         Sering menggunakan fikiran untuk menalar bukan untuk merasakan.

·         Meyakini bahwa IQ lebih penting dari EQ.

Sering membuat prioritas-prioritas yang merusak kesehatan kita sendiri.
Kemampuan akademik, nilai raport, predikat kelulusan perguruan tinggi tidak bisa
menjadi tolak ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa
tinggi sukses yang akan dicapai.


Kita perlu mengembangkan IQ – menyangkut pengetahuan dan keterampilan, namun
kita juga harus dapat menampilkan EQ yang sebaik-baiknya karena EQ harus dilatih.
Untuk meningkatkan kemampuan IQ dan EQ agar supaya dapat memanfaatkan hati nurani kita yang terdalam maka kita juga harus membina SQ yang merupakan cerminan hubungan kita dengan Sang Pencipta  melalui SQ kita dilatih menggunakan ketulusan hati kita sehingga mempertajam apa yang dapat kita tampilkan. Seseorang jika hanya menonjol di sisi intelektualnya saja cenderung tidak bisa bersosialisasi dengan yang lainnya tidak bisa menerapkan etika dengan sebaiknya, bahkan kurang bisa mengendalikan emosinya jika berhadapan dengan suatu masalah.  Ia juga akan mudah "rapuh’"menghadapi hidup dan karirnya, apalagi  saat mengalami kegagalan.



EQ (EMOTIONAL QUOTIENT) dan hubungannya dengan etika
 “Jangan Meremehkan Kecerdasan Emosional Dalam Memberikan Pelayanan Pelanggan Berkualitas Yang Etis.” – Djajendra
Emotional Quotient (EQ) mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan profesional. EQ dianggap sebagai persyaratan bagi kesuksesan pribadi.  Alasan utamanya adalah masyarakat percaya bahwa emosi-emosi sebagai masalah pribadi dan tidak memiliki tempat di luar inti batin seseorang juga batas-batas keluarga.

Penting bahwa kita perlu memahami apa yang diperlukan untuk membantu kita
membangun kehidupan yang positif dan memuaskan, karena ini akan mendorong
mencapai tujuan-tujuan PROFESIONAL kita.Ada dua hal yang harus selalu diperhatikan oleh orang – orang yang bekerja dibidang pelayanan pelanggan. Yaitu etika dan kecerdasan emosional untuk pelayanan pelanggan. Etika merupakan prinsip moral yang mengatur atau mempengaruhi perilaku seseorang, sedangkan kecerdasan emosional merupakan kesadaran untuk mengelola emosi diri sendiri untuk kepentingan pelayanan pelanggan.
Etika biasanya diatur melalui budaya perusahaan dalam bentuk panduan kode etik pelayanan, panduan etika bisnis,  dan panduan etika kerja . Oleh karena itu, pelaksanaan etika pelayanan tidaklah sulit, setiap pekerja  tinggal mengatur mindset dan perilaku sesuai panduan etika perusahaan untuk dapat memberikan pelayanan sempurna yang etis sesuai janji dan komitmen.Persoalannya, perilaku seseorang selalu dipengaruhi oleh emosi atas dasar situasi dan kondisi dari diri sendiri dan dari luar diri sendiri. Emosi yang tidak cerdas selalu berpotensi berada dalam konflik batin dan konflik kepentingan, sehingga hal ini akan membuat semua panduan etika yang dimiliki perusahaan tidak berfungsi sesuai harapan dalam memberikan pelayanan yang sempurna. Untuk mengatasi hal ini, setiap karyawan dan pimpinan perusahaan wajib melengkapi kualitas dirinya dengan kecerdasan emosional yang baik.
Bagaimana cara memiliki kecerdasan emosional untuk pelayanan sempurna yang etis? Emosi yang cerdas adalah persoalan kepribadian seseorang. Tidak ada panduan yang bisa dibuat perusahaan untuk mengelola emosi seseorang, yang bisa dilakukan adalah secara terus-menerus membangun kesadaran melalui pengetahuan kecerdasan emosional yang lengkap kepada setiap individu di dalam perusahaan. Semakin sering seseorang diajarkan, dilatih dan disadarkan untuk mencerdaskan emosional dirinya melalui nilai-nilai dan pengetahuan emosional berkualitas tinggi, semakin dewasa dan berkualitas emosinya untuk memberikan pelayanan berkualitas sempurna yang etis.Pelayanan yang etis akan mengaktualisasikan nilai – nilai etika bisnis untuk merawat hubungan baik dengan pelanggan. Pelayanan etis melalui kecerdasan emosional akan mengaktualisasikan nilai-nilai kebaikan dan sikap baik untuk membuat pelanggan menjadi setia kepada perusahaan.
Mindset setiap individu dalam garis depan harus diarahkan untuk berorientasi kepada pelayanan berkualitas yang etis melalui penetapan standar kinerja tinggi untuk diri sendiri sebagai individu dan tim. Kemampuan untuk memberikan apa kebutuhan pelanggan dalam hal nilai, etika, emosi, kualitas dan kepuasan akan menjadi keunggulan perusahaan. Prinsip-prinsip pelayanan, seperti: integritas, objektifitas, kredibilitas, profesionalisme, kualitas layanan tertinggi, kepercayaan diri, dan keyakinan untuk menghormati pelanggan, akan menjadikan perusahaan selalu unggul bersama pelayanan etis.
SQ (Spiritual Quotient) dan hubungannya dengan etika
Konsep kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ) pertama kali digagas dan dipopulerkan oleh Donah Zohar dan Ian Marshall (2000). Kedua penulis ini, yang masing-masing berasal dari Harvard University dan Oxford University, melalui riset yang komprehensif membuktikan bahwa sesungguhnya kecerdasan manusia yang paling tinggi terletak pada kecerdasan spiritualnya. Dengan mendasarkan pada hasil penelitian ahli psikologi/saraf, Michael Persinger (awal 1990-an) dan V.S. Ramachandran (1997), Zohar dan Marshall mengatakan bahwa terdapat God-Spot dalam otak manusia. God-Spot tersebut sudah built-in (tertanan mantap) sebagai pusat spiritual diantara jaringan saraf dan otak. Menurut Zohar dan Marshall (2000), ada dua hal yang merupakan unsure fundamental dari SQ, yaitu aspek nilai dan makna.
Berdasarkan identifikasi tentang dua unsur fundamental SQ tersebut, mereka mengatakan bahwa SQ adalah kecerdasan untuk mengahadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai, kecerdasan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding orang lain, dan kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.
Penting dikemukakan bahwa Zohar dan Marshall berpendapat SQ itu berbeda dengan agama, karena agama merupakan aturan-aturan yang datang dari luar (etika heteronom); sedangkan SQ adalah kemampuan internal, yaitu sesuatu yang menyentuh dan membimbing manusia dari dalam (etika otonom). Dalam hal ini agama, menurut mereka, adalah salah satu saja di antara banyak nilai yang dapat meningkatkan SQ, tetapi bukan merupakan penentu utama SQ yang tinggi. Sesuai dengan pengertian ini, inti SQ ialah bagaimana mendengarkan suara hati yang terdalam sebai sumber kebenaran yang meupakan karunia Tuhan, yang dari padanya seseorang dapat merasakan adanya sesuatu yang indah atau mulia dalam dirinya. Efektivitas suara hati akan mempengaruhi perilaku individu, sehingga akhirnya akan menghasilkan manusia unggul secara spiritual, yang mampu mengekplorasi dan menginternalisasi kekayaan ruhaniah dan jasmaniah dalam hidupnya.

Pembentukan  SQ menjadi sangat penting sebagai etika masa depan pendidikan nasional.Selain itu, semakin menguatnya desakan pemilikan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk hidup bersama dalam pusaran global membuat SQ terasa kian penting peranannya. Djamaludin Ancok (2001) menjelaskan bahwa memasuki ekonomi baru yang virtual diperlukan empat modal, yaitu intelektual, modal social, modal spiritual, dan modal kesehatan. Menurutnya, modal spiritual menjadi sangat penting, karena upaya membangun manusia yang cerdas dengan IQ tinggi dan manusia pandai mengelola emosinya dalam berhubungan dengan orang lain tidaklah mengantarkan manusia pada kebermaknaan hidup.



CQ (CRETIVITY QUOTIENT)dan hubungannya dengan etika

Kreativitas sering dianggap terdiri dari dua unsur :
1. Kepasihan yang ditunjukkan oleh kemampuan menghasilkan sejumlah besar
gagasan dan ide-ide pemecahan masalah secara lancar dan cepat.
2. Keluwesan yang pada umumnya mengacu pada kemampuan untuk menemukan
gagasan atau ide yang berbeda-beda dan luar biasa untuk memecahkan suatu
masalah.Manusia yang menjadi lebih kreatif akan menjadi lebih terbuka pikirannya terhadap
imajinasinya, gagasannya sendiri maupun orang lain.
Sekalipun beberapa pengamat yang memiliki rasa humor merasa bahwa kebutuhan manusia untuk menciptakan berasal dari keinginan untuk “hidup di luar kemampuan mereka”, namun penelitian mengungkapkan bahwa manusia berkreasi adalah karena adanya kebutuhan dasar,seperti : keamanan, cinta dan penghargaan.Mereka juga termotivasi untuk berkreasi oleh lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup yang lebih menyenangkan, kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan hidup dan kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.

HAMBATAN UNTUK MENJADI LEBIH KREATIF
Kebiasaan, waktu, dibanjiri masalah, tidak ada masalah, takut gagal, kebutuhan akan
sebuah jawaban sekarang, kegiatan mental yang sulit diarahkan, takut bersenang-
senang, kritik orang lain.Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari, psikiater, mengemukakan bahwa SDM dengan CQ yang tinggi mampu merubah bentuk. Dari suatu ancaman (THREAT) menjadi tantangan (CHALLENGE) dan dari tantangan menjadi peluang (OPPORTUNITY).
Daya kreativitas tipe ini dapat membangkitkan semangat, percaya diri (SELF
CONFIDENCE) dan optimisme masyarakat dan bangsa untuk menghadapi masa
depan yang lebih baik, daya kreativitasnya bersifat rasional, tidak sekedar angan- angan belaka (WISH FUL THINKING), dan dapat di aplikasikan serta diimplementasikan.    

Ketika akhirnya Thomas Alva Edison (1847 – 1931) berhasil menemukan baterai
yang ringan dan tahan lama, dia telah melewati 50.000 percobaan dan bekerja selama
20 tahun. Tak heran kalau ada yang bertanya, “Mr. Edison, Anda telah gagal 50.000
kali, lalu apa yang membuat Anda yakin bahwa akhirnya Anda akan berhasil ?”
Secara spontan Edison langsung menjawab, “Berhasil ? Bukan hanya berhasil, saya
telah mendapatkan banyak hasil. Kini saya tahun 50.000 hal yang tidak berfungsi.
Jawaban luar biasa dari pencipta lampu pijar itu menjadi salah satu contoh ekstrem
seorang climber (pendaki) – yang dianggap memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan
(adversity quotient, AQ) tinggi – dalam buku Adversity Quotient :
Turning Obstacles into Opportunities karya Paul G. Stoltz, Ph.D. Inilah sebuah buku
yang mencoba mengukur kecerdasan menghadapi kesulitan dari berbagai profesi,
baik dalam dunia bisnis maupun dalam dunia-dunia kreatif lainnya. Terminologi AQ
memang tidak sepopuler kecerdasan emosi (emotional quotient) milik Daniel
Goleman, kecerdasan eksekusi (execution quotient) karya Stephen R. Covey. Meski                
begitu, buku ini juga mampu memberikan perspektif baru bagi para eksekutif bisnis

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                             Proses Kreatif
Kreativitas dalam perkembangannya sangat sangat terkait dengan empat aspek, yaitu:
1. Aspek Pribadi
 Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.
2. Aspek Pendorong          
            Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan.
3. Aspek Proses
            Ditinjau sebagai proses, menurut Torrance (1988) kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyaipaikan hasil-hasilnya.
4. Aspek Produk
            Definisi produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna.
 Kreativitas tidak timbul serta-merta, tetapi melalui proses.  Proses kreatif  menurut Bobbi De Porter & Mike Hernacki (2001:301) dalam bukunya Quantum Learning  mengalir melalui lima tahap, hatap-tahap tersebut sebagai berikut :
1. Persiapan     Mendifinisikan masalah, tujuan, atau tantangan.
2.      Inkubasi    Mencerna fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran.
3.      Iluminasi   Mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan bermunculan.
4.      Verifikasi Memastikam apakah solusi itu benar-benar memecahkan masalah.
5.      Aplikasi    Mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti solusi tersebut

Dalam melaksanakan aspek-aspek tersebut seseorang dipengaruhi oleh interaksi lingkungan sosial yang berlangsung disekitarnya, dimana hal ini memerlukan kesadaran etis yang diperlukan dari proses sesorang itu berpikir dan menyelesaikan masalah serta menciptakan suatu ide-ide baru.



PENUTUP
Kesimpulan                                                                      
Kita perlu mengembangkan IQ – menyangkut pengetahuan dan keterampilan, namun
kita juga harus dapat menampilkan EQ yang sebaik-baiknya karena EQ harus dilatih.
Untuk meningkatkan kemampuan IQ dan EQ agar supaya dapat memanfaatkan hati
nurani kita yang terdalam maka kita juga harus membina SQ yang merupakan
cerminan hubungan kita dengan Sang Pencipta  melalui SQ kita dilatih
menggunakan ketulusan hati kita sehingga mempertajam apa yang dapat kita
tampilkan.

Jadi perpaduan antara IQ, EQ dan SQ inilah yang akan membina jiwa kita secara
utuh, sehingga kita dapat meniti karir dengan baik, dimana akan lebih baik lagi jika
ditambahkan AQ (Adversity Quotient) yang mengajarkan kepada kita bagaimana
dapat menjadikan tantangan bahkan ancaman menjadi peluang. Jadi yang ideal
memang saudara harus mampu memadukan IQ, EQ, SQ dan AQ dengan seimbang.



Comments

Popular posts from this blog

Evolusi ( Pro dan Kontra ?)

Evolusi Evolusi adalah proses perubahan seedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama. Dalam kajian biologi evolusi berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu  populasi   organisme  dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari pengartian tersebut tentu kita dapat menarik kesimpulan bahwa proses evolusi adalah proses perubahan yang diturunkan, termasuk didalamnya variasi genetik dalam ruang lingkup suatu populasi tertentu. Sejarah evolusi sendiri bukanlah hal baru bagi dunia ilmiah jika dilihat kembali sejak abad ke-6 SM para ilmuan dan filsuf telah menyebut evolusi dengan berbagai pandangan yang berbeda-beda, barulah pada tahun 1859 Charles Darwin mengeluarkan buku yang kita kenal sekarang dengan judulnya the origin of species by means of natural selection, dalam buku tersebut banyak termuat bukti-bukti serta penjelasan terbuka dan mendetail mengenai evolusi, teori evolusi darwinpun diterima secara luas dikala itu. Darwin mungkin terk...

otaku dan anime

Sudah bukan rahasia umum lagi kalo si admin blog ini adalah seorang otaku, hehe sebuah julukan yang sebernanya tidak masuk akal untuk dibanggakan, tapi entah kenapa persepsi untuk otaku di negeri asalnya jepang bertolak belakang dengan persepsi untuk otaku di Indonesia, disini siapapun yang menyukai atau bisa dibilang jatuh cinta pada anime, manga dkk bangga menyebut dirinya sebagai otaku. Sedangkan di jepang otaku diasosiasikan dengan tingkah-tingkah menyimpang yang keterlaluan, seperti mengurung diri dalam kamar seharian hanya untuk menonton anime saja, menghabiskan uang hanya untuk membeli semua pernak pernik yang berhubungan dengan anime atau manga yang digemari, bahkan berlomba-lomba mencari keluaran edisi paling baru, yeah kedengarannya saja sudah mengerikan, jadi wajar saja kalau otaku dijepang dipandang buruk oleh masyarakat disana.  Yeah walau bagaimanapun, sebagai otaku atau bukan otaku toh menyukai anime itu sudah merupakan hobby sejak SMP, aku melewati sej...

see you in another odyssey

i think i should say goodbye  not to you, but to me me, that lived in those days  where the world had different color the world that had it own hustle where every steps that i took has it own melody, like a certain song  that bring memory to those time  and i know very well  nothing can replace a good friends , a good journey, a good experience, a good lesson even all those mistakes i must admit all of it is a beautiful painting of life goodbye, see you in another odyssey ~