PENDAHULUAN
Kenapa ada orang
disebut lebih cerdas dari yang lain ? Ketika seorang anak usia 2
tahun dapat mengeja sederetan huruf
pembentuk kata, bahkan kalimat, dengan baik
dan benar, serta merta orang tua dan
lingkungannya menyebut ia “anak cerdas”.
Sederhana dasar yang dipakai, banyak anak
lain dalam usia tersebut sama sekali
belum mampu melakukan hal itu.
Derasnya laju
informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi memicu dan memacu setiap
orang untuk menjadi lebih cerdas. Baik oleh
diri sendiri maupun – dan ini yang
tampak sangat menonjol – orangtua-orangtua
yang berlomba “mencerdaskan” anak-
anaknya, supaya mampu bersaing. Hiruk pikuk
orang berburu kursus, paket latihan,
drilling program, dan sebagainya. Apa
esensi yang hendak ditangkap ? Mungkin
betul, demi meningkatkan – jika mungkin
semua – kecerdasan. Namun, barang apa
itu ?
Memahami
Kecerdasan
Sejak dilakukan
studi dan penelitian intensif, hal penting tentang kecerdasan
(intelligence) dicerminkan oleh berbagai
kontroversi pengukuran. Seperti juga pada
barang lain, kontroversi ini tidak pernah
berhenti, bahkan sampai sekarang.
David Wechsler (1939) mendefinisikan
kecerdasan sebagai kumpulan kapasitas
seseorang untuk bereaksi serah dengan
tujuan, berpikir rasional dan mengelola
lingkungan secara efektif.
PEMBAHASAN
AQ
(ADVERSITY QUOTIENT)
Kecerdasan
dalam menghadapi masalah
Selain Edison,
kita mengenal Steve Jobs (Apple Computer, Pixar Studios), Bill Gates(Microsoft)
dan sederet nama lainnya. Dalam konteks Indonesia, saya pernah berbincang-bincang
dengan Kafi Kurnia, salah seorang konsultan pemasaran terbaik Indonesia. Dia
mata Kafi, salah seorang pengusaha Indonesia yang memiliki AQ tertinggi
adalah Ny. Meneer, yang perusahaan jamunya terus tumbuh di berbagai zaman
Indonesia sejak zaman Belanda. Di zaman modern, saya pribadi menganggap Rusdi Kirana,
yang berhasil membuat standar baru dalam industri penerbangan,sebagai
salah seorang yang memiliki AQ tinggi.
Apakah adversity
quotient (AQ) itu ? Menurut Stoltz, AQ adalah kecerdasan untuk mengatasi kesulitan. “AQ
merupakan faktor yang dapat menentukan bagaimana, jadi atau tidaknya, serta
sejauh mana sikap, kemampuan dan kinerja Anda terwujud di dunia,” tulis Stoltz.
Pendek kata, orang yang memiliki AQ tinggi akan lebih mampu mewujudkan
cita-citanya dibandingkan orang yang AQ-nya lebih rendah. Untuk memberikan
gambaran, Stoltz meminjam terminologi para pendaki gunung. Dalam hal ini,
Stoltz membagi para pendaki gunung menjadi tiga bagian : quitter (yang
menyerah), camper (berkemah di tengah perjalanan), dan climber (pendaki yang mencapai
puncak). Para quitter adalah para pekerja yang sekadar untuk bertahan
hidup. Para camper labih baik, karena biasanya mereka berani melakukan pekerjaan yang
beresiko, tetapi tetap mengambil resiko yang terukur dan aman. Adapun para
climber, yakni mereka yang dengan segala keberaniannya menghadapi masalah
Adversity
Qountient adalah kemampuan / kecerdasan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi
kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup resiko, akan menuntaskan
pekerjaannya. Dalam konteks ini, para climber dianggap memiliki AQ tinggi. Dengan kata
lain, AQ membedakan antara para climber, camper dan quitter. Para climber inilah yang
berhasil menggerakkan perekonomian.Paul G. Stoltz, merinci AQ berdasarkan
penelitiannya :
a. AQ Tingkat “Quitters” (Orang-orang yang
Berhenti)
Tingkatan AQ paling rendah yakni orang yang
langsung menyerah ketika
menghadapi kesulitan hidup. Orang yang
tidak berikhtiar dan hanya berkeluh
kesah menghadapi penderitaan kemiskinan dan
lain-lain.
b. AQ Tingkat “Campers” (Orang yang
Berkemah)
Campers adalah AQ tingkat bawah.
Awalnya giat mendaki / berusaha menghadapi
kesulitan hidup, ditengah perjalanan mudah merasa cukup dan mengakhiri
pendakian atau usahanya. Contoh : orang yang sudah merasa cukup dengan menjadi
sarjana, merasa sukses bila memiliki jabatan dan materi.
c. AQ Tingkat “Climbers” (Orang yang
Mendaki)
Climbers adalah pendaki sejati. Orang yang
seumur hidup mendaki mencari hakikat kehidupan menuju kemuliaan manusia dunia dan
akhirat.
Rentang AQ meliputi tiga (3) golongan :
1. AQ rendah (0-50)
2. AQ sedang (95-134)
3. AQ tinggi (166-200)
Kabar baik kita
semua adalah bawah AQ ternyata bukan sekadar anugerah yang bersifat diberikan. AQ ternyata
bisa dipelajari. Dengan latihan-latihan tertentu, setiap orang bisa
diberi pelatihan untuk meningkatkan level AQ-nya. Di banyak perusahaan yang
dilatihnya, Stoltz berhasil melihat peningkatan kinerja – dalam berbagai ukuran – para
karyawannya.
Di sebuah
perusahaan farmasi multinasional, Stoltz mendapatkan fakta bahwa peningkatan AQ
para karyawan, membuat perusahaan lebih mudah melakukan perubahan strategis. Padahal
kita semua mafhum, banyak perubahan strategis yang mahal biayanya karena resistensi para
karyawannya.
Dunia kerja
adalah dunia yang penuh dengan tantangan dan rintangan, karenanya
sanggupkah kita menjalaninya ? sebagai
pelaksana profesi yang ingin menjadi
seorang yang profesional hendalah
menetapkan dihati bahwa “Saya adalah pendaki
sejati, yang akan mengarungi semua
tantangan dan rintangan yang ada”.
Namun satu hal yang perlu kita yakini
bersama bahwa tidak ada manusia yang
sempurna, tidak ada jalan yang lurus mulus.
Setiap individu mempunyai kelebihan
dan kekurangan dalam dirinya. Hambatan dan
peluang akan ditemui dalam mencapai
cita-cita masa depan. Analisis SWOT
merupakan suatu teknik yang dapat digunakan
untuk menelaah tingkat keberhasilan
pencapaian cita-cita/karier.
“S” Strenght (Kekuatan), adalah sebuah
potensi yang ada pada diri sendiri yang
mendukung cita-cita / karier.
“W” Weakness (Kelemahan), adalah seluruh
kekurangan yang ada pada diri sendiri
dan kurang mendukung cita-cita/ karier.
“O” Opportunity, (Peluang), adalah segala
sesuatu yang dapat menunjang
keberhasilan cita-cita/karier.
“T” Traits (Ancaman), adalah segala sesuatu
yang dapat menggagalkan rencana cita-
cita/karier yang berasal dari diri sendiri
atau lingkungan.
Pemecahan masalah dapat dilakukan dengan
Zero Mind Proces; melepas belenggu
mental, maka emosi terkendali, akal/logika
berpikir terjadi ketenangan batin, berserah
diri kepada Tuhan. Maka potensi energi dan
nilai spiritual muncul dan bangkit,
tercipta dalam bentuk aplikasi nyata.
Ø Bagaimana menghadapi masalah
Bukan apa yang terjadi pada Anda yang penting,
adalah bagaimana Anda bereaksi terhadap apa yang terjadi pada Anda, terutama
ketika Anda dihadapkan dengan masalah tak terduga.Berikut adalah beberapa
pengamatan kita telah mendapatkan dari bekerja dengan orang-orang sukses selama
bertahun-tahun.
Melihat ke arah mana Anda inginkan..
Apa pun
menantang Anda wajah, fokus pada masa depan bukan pada masa lalu.
Alih-alih
khawatir tentang siapa melakukan apa dan siapa yang harus disalahkan, fokus di
mana Anda ingin berada dan apa yang ingin Anda lakukan. Dapatkan gambaran mental
yang jelas tentang hasil yang ideal sukses Anda, dan kemudian mengambil
tindakan apapun yang Anda bisa untuk mulai bergerak ke arah ituDapatkan pikiran
Anda, pikiran Anda, dan citra mental Anda pada masa depan.
. Pikirkan
Tentang Solusi. Ketika Anda menghadapi kesulitan, fokus pada kemungkinan solusi
bukan pada masalahBerpikir dan berbicara tentang solusi ideal untuk halangan
atau kemunduran, bukan membuang-buang waktu dan mengulangi merenungkan masalah.. Solusi secara inheren positif, sedangkan masalah
secara inheren negatif.. Instan yang Anda
mulai berpikir dalam hal solusi, Anda menjadi positif dan konstruktif.
. Diperhatikan
yang Baik, bahkan jika itu pelajaran yang dapat dipetik.. Ini mungkin satu sulit tetapi mencari sesuatu
yang baik tersembunyi di dalam setiap kesulitan atau tantangan. Melihat ke arah
apa yang Anda dapat belajar dan melakukan dalam waktu yang berbeda berikutnya
Memahami bahwa apa pun situasi yang Anda hadapi saat ini adalah persis situasi
yang tepat Anda perlu akhirnya menjadi sukses..
Gunakan untuk membantu Anda berkembang dan bertumbuh Kita sering belajar lebih
melalui kesalahan dari yang kita lakukan dengan keberhasilan kami, mengetahui
bahwa, merangkul situasi sebagai kesempatan untuk belajar bukan suatu situasi
untuk rel terhadap.
Memiliki gelas penuh setengah.Sikap Mental
Positif sangat diperlukan untuk keberhasilan Anda Anda dapat sebagai positif
yang Anda inginkan jika Anda hanya akan berpikir tentang masa depan, fokus pada
solusi dan mencari kebaikan. Jika Anda
melakukan apa yang orang sukses lain lakukan, jika Anda menggunakan pikiran
Anda untuk melakukan kontrol mental atas situasi, Anda akan sangat positif dan
ceria dari waktu. Dan Anda akan menuai
keuntungan yang dinikmati oleh semua orang sukses.
Berikut adalah tiga langkah yang dapat diambil
segera untuk menempatkan ide-ide ke dalam tindakan;
Pertama, menjadi berorientasi solusi dengan setiap kesulitan yang Anda
hadapi Biasakan mencari jawaban atas pertanyaan Anda, solusi untuk masalah
Anda. Kedua, mencari pelajaran berharga dalam setiap kesulitan. Buatlah daftar dari setiap ide atau wawasan yang Anda dapat memperoleh dari setiap kemunduran atau kesulitan.
Ketiga, pikirkan di atas kertas. Luangkan waktu untuk menuliskan setiap detail dari masalah, dan kemudian mengambil langkah berikutnya yang paling logis untuk menyelesaikannya.
Kecerdasan ini ditemukan pada sekitar tahun
1912 oleh William Stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada
masanya saat itu, dan ternyata masih juga di Indonesia saat ini. Bahkan untuk
masuk ke militer pada saat itu, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan
dalam penerimaan masuk ke militer.
Kecerdasan ini terletak di otak bagian Cortex
(kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita
kemampuan untuk berhitung, bernalogi, berimajinasi, dan memiliki daya kreasi
serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh para pakar psikologis
dengan “What I Think“.Dengan memiliki IQ yang baik dan
terstandar maka masing-masing individu memiliki kemantapan pemahaman tentang potensi diri
dan pengembangannya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari
maupun untuk peranannya sebagai pelaksana / pelaku profesi.
Dari banyak penelitian didapatkan hasil atau
pendapat bahwa individu yang mempunyai IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk
dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ rendah justru sangat perprestasi.Hal ini
dikarenakan individu yang mempunyai IQ tinggi seringkali memiliki sifat-sifat
menyesatkan sebagai berikut :
·
Yakin tahu semua hal.
·
Sering menggunakan fikiran
untuk menalar bukan untuk merasakan.
·
Meyakini bahwa IQ lebih penting
dari EQ.
Sering membuat prioritas-prioritas
yang merusak kesehatan kita sendiri.
Kemampuan akademik, nilai raport, predikat
kelulusan perguruan tinggi tidak bisa
menjadi tolak ukur seberapa baik kinerja
seseorang sesudah bekerja atau seberapa
tinggi sukses yang akan dicapai.
Kita perlu
mengembangkan IQ – menyangkut pengetahuan dan keterampilan, namun
kita juga harus dapat menampilkan EQ yang
sebaik-baiknya karena EQ harus dilatih.
Untuk meningkatkan kemampuan IQ dan EQ agar
supaya dapat memanfaatkan hati nurani kita yang terdalam maka kita juga harus
membina SQ yang merupakan cerminan hubungan kita dengan Sang Pencipta melalui SQ kita dilatih menggunakan
ketulusan hati kita sehingga mempertajam apa yang dapat kita tampilkan. Seseorang jika
hanya menonjol di sisi intelektualnya saja cenderung tidak bisa bersosialisasi
dengan yang lainnya tidak bisa menerapkan etika dengan sebaiknya, bahkan kurang
bisa mengendalikan emosinya jika berhadapan dengan suatu masalah. Ia juga
akan mudah "rapuh’"menghadapi hidup dan karirnya, apalagi saat
mengalami kegagalan.
“Jangan Meremehkan Kecerdasan Emosional Dalam
Memberikan Pelayanan Pelanggan Berkualitas Yang Etis.” – Djajendra
Emotional
Quotient (EQ) mempunyai peranan penting dalam meraih kesuksesan pribadi dan
profesional. EQ dianggap sebagai persyaratan bagi kesuksesan pribadi. Alasan utamanya adalah masyarakat percaya bahwa emosi-emosi sebagai
masalah pribadi dan tidak memiliki tempat di luar inti batin seseorang juga
batas-batas keluarga.
Penting bahwa
kita perlu memahami apa yang diperlukan untuk membantu kita
membangun kehidupan yang positif dan
memuaskan, karena ini akan mendorong
mencapai tujuan-tujuan PROFESIONAL kita.Ada dua hal yang harus selalu
diperhatikan oleh orang – orang yang bekerja dibidang pelayanan pelanggan.
Yaitu etika dan kecerdasan emosional untuk pelayanan pelanggan. Etika merupakan
prinsip moral yang mengatur atau mempengaruhi perilaku seseorang, sedangkan
kecerdasan emosional merupakan kesadaran untuk mengelola emosi diri sendiri
untuk kepentingan pelayanan pelanggan.
Etika
biasanya diatur melalui budaya perusahaan dalam bentuk panduan kode etik
pelayanan, panduan etika bisnis, dan panduan etika kerja . Oleh karena
itu, pelaksanaan etika pelayanan tidaklah sulit, setiap pekerja tinggal mengatur mindset dan perilaku sesuai
panduan etika perusahaan untuk dapat memberikan pelayanan sempurna yang etis
sesuai janji dan komitmen.Persoalannya, perilaku seseorang selalu dipengaruhi
oleh emosi atas dasar situasi dan kondisi dari diri sendiri dan dari luar diri
sendiri. Emosi yang tidak cerdas selalu berpotensi berada dalam konflik batin
dan konflik kepentingan, sehingga hal ini akan membuat semua panduan etika yang
dimiliki perusahaan tidak berfungsi sesuai harapan dalam memberikan pelayanan
yang sempurna. Untuk mengatasi hal ini, setiap karyawan dan pimpinan perusahaan
wajib melengkapi kualitas dirinya dengan kecerdasan emosional yang baik.
Bagaimana
cara memiliki kecerdasan emosional untuk pelayanan sempurna yang etis? Emosi
yang cerdas adalah persoalan kepribadian seseorang. Tidak ada panduan yang bisa
dibuat perusahaan untuk mengelola emosi seseorang, yang bisa dilakukan adalah
secara terus-menerus membangun kesadaran melalui pengetahuan kecerdasan
emosional yang lengkap kepada setiap individu di dalam perusahaan. Semakin
sering seseorang diajarkan, dilatih dan disadarkan untuk mencerdaskan emosional
dirinya melalui nilai-nilai dan pengetahuan emosional berkualitas tinggi,
semakin dewasa dan berkualitas emosinya untuk memberikan pelayanan berkualitas
sempurna yang etis.Pelayanan yang etis akan mengaktualisasikan nilai – nilai
etika bisnis untuk merawat hubungan baik dengan pelanggan. Pelayanan etis
melalui kecerdasan emosional akan mengaktualisasikan nilai-nilai kebaikan dan
sikap baik untuk membuat pelanggan menjadi setia kepada perusahaan.
Mindset
setiap individu dalam garis depan harus
diarahkan untuk berorientasi kepada pelayanan berkualitas yang etis melalui
penetapan standar kinerja tinggi untuk diri sendiri sebagai individu dan tim.
Kemampuan untuk memberikan apa kebutuhan pelanggan dalam hal nilai, etika,
emosi, kualitas dan kepuasan akan menjadi keunggulan perusahaan.
Prinsip-prinsip pelayanan, seperti: integritas, objektifitas, kredibilitas,
profesionalisme, kualitas layanan tertinggi, kepercayaan diri, dan keyakinan
untuk menghormati pelanggan, akan menjadikan perusahaan selalu unggul bersama
pelayanan etis.
SQ (Spiritual Quotient)
dan hubungannya dengan etika
Konsep
kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ) pertama kali digagas dan
dipopulerkan oleh Donah Zohar dan Ian Marshall (2000). Kedua penulis ini, yang
masing-masing berasal dari Harvard University dan Oxford University, melalui
riset yang komprehensif membuktikan bahwa sesungguhnya kecerdasan manusia yang
paling tinggi terletak pada kecerdasan spiritualnya. Dengan mendasarkan pada
hasil penelitian ahli psikologi/saraf, Michael Persinger (awal 1990-an) dan
V.S. Ramachandran (1997), Zohar dan Marshall mengatakan bahwa terdapat God-Spot
dalam otak manusia. God-Spot tersebut sudah built-in (tertanan mantap) sebagai
pusat spiritual diantara jaringan saraf dan otak. Menurut Zohar dan Marshall
(2000), ada dua hal yang merupakan unsure fundamental dari SQ, yaitu aspek
nilai dan makna.
Berdasarkan
identifikasi tentang dua unsur fundamental SQ tersebut, mereka mengatakan bahwa
SQ adalah kecerdasan untuk mengahadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai,
kecerdasan menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang
lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa jalan hidup seseorang lebih
bermakna dibanding orang lain, dan kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui
nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai
baru.
Penting
dikemukakan bahwa Zohar dan Marshall berpendapat SQ itu berbeda dengan agama,
karena agama merupakan aturan-aturan yang datang dari luar (etika heteronom);
sedangkan SQ adalah kemampuan internal, yaitu sesuatu yang menyentuh dan
membimbing manusia dari dalam (etika otonom). Dalam hal ini agama, menurut
mereka, adalah salah satu saja di antara banyak nilai yang dapat meningkatkan
SQ, tetapi bukan merupakan penentu utama SQ yang tinggi. Sesuai dengan
pengertian ini, inti SQ ialah bagaimana mendengarkan suara hati yang terdalam
sebai sumber kebenaran yang meupakan karunia Tuhan, yang dari padanya seseorang
dapat merasakan adanya sesuatu yang indah atau mulia dalam dirinya. Efektivitas
suara hati akan mempengaruhi perilaku individu, sehingga akhirnya akan
menghasilkan manusia unggul secara spiritual, yang mampu mengekplorasi dan
menginternalisasi kekayaan ruhaniah dan jasmaniah dalam hidupnya.
Pembentukan SQ menjadi sangat penting sebagai etika masa
depan pendidikan nasional.Selain itu, semakin menguatnya desakan pemilikan
sumber daya manusia yang memiliki kompetensi untuk hidup bersama dalam pusaran
global membuat SQ terasa kian penting peranannya. Djamaludin Ancok (2001)
menjelaskan bahwa memasuki ekonomi baru yang virtual diperlukan empat modal,
yaitu intelektual, modal social, modal spiritual, dan modal kesehatan.
Menurutnya, modal spiritual menjadi sangat penting, karena upaya membangun
manusia yang cerdas dengan IQ tinggi dan manusia pandai mengelola emosinya
dalam berhubungan dengan orang lain tidaklah mengantarkan manusia pada
kebermaknaan hidup.
CQ (CRETIVITY QUOTIENT)dan hubungannya dengan etika
Kreativitas sering dianggap terdiri dari
dua unsur :
1. Kepasihan yang ditunjukkan oleh
kemampuan menghasilkan sejumlah besar
gagasan dan ide-ide pemecahan masalah
secara lancar dan cepat.
2. Keluwesan yang pada umumnya mengacu pada
kemampuan untuk menemukan
gagasan atau ide yang berbeda-beda dan luar
biasa untuk memecahkan suatu
masalah.Manusia yang menjadi lebih kreatif
akan menjadi lebih terbuka pikirannya terhadap
imajinasinya, gagasannya sendiri maupun
orang lain.
Sekalipun
beberapa pengamat yang memiliki rasa humor merasa bahwa kebutuhan manusia untuk
menciptakan berasal dari keinginan untuk “hidup di luar kemampuan mereka”, namun
penelitian mengungkapkan bahwa manusia berkreasi adalah karena adanya kebutuhan
dasar,seperti : keamanan, cinta dan penghargaan.Mereka juga termotivasi untuk
berkreasi oleh lingkungannya dan manfaat dari berkreasi seperti hidup
yang lebih menyenangkan, kepercayaan diri yang lebih besar, kegembiraan
hidup dan kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
HAMBATAN UNTUK MENJADI LEBIH KREATIF
Kebiasaan,
waktu, dibanjiri masalah, tidak ada masalah, takut gagal, kebutuhan akan
sebuah jawaban sekarang, kegiatan mental
yang sulit diarahkan, takut bersenang-
senang, kritik orang lain.Prof. Dr. dr. H.
Dadang Hawari, psikiater, mengemukakan bahwa SDM dengan CQ yang tinggi
mampu merubah bentuk. Dari suatu ancaman (THREAT) menjadi tantangan
(CHALLENGE) dan dari tantangan menjadi peluang (OPPORTUNITY).
Daya kreativitas
tipe ini dapat membangkitkan semangat, percaya diri (SELF
CONFIDENCE) dan optimisme masyarakat dan
bangsa untuk menghadapi masa
depan yang lebih baik, daya kreativitasnya
bersifat rasional, tidak sekedar angan- angan belaka (WISH FUL
THINKING), dan dapat di aplikasikan serta diimplementasikan.
Ketika akhirnya
Thomas Alva Edison (1847 – 1931) berhasil menemukan baterai
yang ringan dan tahan lama, dia telah
melewati 50.000 percobaan dan bekerja selama
20 tahun. Tak heran kalau ada yang
bertanya, “Mr. Edison, Anda telah gagal 50.000
kali, lalu apa yang membuat Anda yakin
bahwa akhirnya Anda akan berhasil ?”
Secara spontan Edison langsung menjawab,
“Berhasil ? Bukan hanya berhasil, saya
telah mendapatkan banyak hasil. Kini saya
tahun 50.000 hal yang tidak berfungsi.
Jawaban luar biasa dari pencipta lampu
pijar itu menjadi salah satu contoh ekstrem
seorang climber (pendaki) – yang dianggap
memiliki kecerdasan mengatasi kesulitan
(adversity quotient, AQ) tinggi – dalam
buku Adversity Quotient :
Turning Obstacles into Opportunities karya
Paul G. Stoltz, Ph.D. Inilah sebuah buku
yang mencoba mengukur kecerdasan menghadapi
kesulitan dari berbagai profesi,
baik dalam dunia bisnis maupun dalam
dunia-dunia kreatif lainnya. Terminologi AQ
memang tidak sepopuler kecerdasan emosi
(emotional quotient) milik Daniel
Goleman,
kecerdasan eksekusi (execution quotient) karya Stephen R. Covey. Meski
begitu,
buku ini juga mampu memberikan perspektif baru bagi para eksekutif bisnis
Proses Kreatif
Kreativitas dalam perkembangannya sangat sangat terkait dengan empat
aspek, yaitu:
1. Aspek Pribadi
Ditinjau dari aspek pribadi,
kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.
2. Aspek Pendorong
Ditinjau dari aspek pendorong
kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal
dari lingkungan.
3. Aspek Proses
Ditinjau sebagai proses, menurut
Torrance (1988) kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya
masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji
dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya
menyaipaikan hasil-hasilnya.
4. Aspek Produk
Definisi produk kreativitas
menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu
yang baru, orisinil, dan bermakna.
Kreativitas tidak timbul
serta-merta, tetapi melalui proses.
Proses kreatif menurut Bobbi De
Porter & Mike Hernacki (2001:301) dalam bukunya Quantum Learning mengalir
melalui lima tahap, hatap-tahap tersebut sebagai berikut :
1. Persiapan Mendifinisikan masalah, tujuan, atau
tantangan.
2. Inkubasi Mencerna
fakta-fakta dan mengolahnya dalam pikiran.
3.
Iluminasi Mendesak ke permukaan, gagasan-gagasan
bermunculan.
4.
Verifikasi Memastikam apakah solusi itu benar-benar
memecahkan masalah.
5.
Aplikasi Mengambil langkah-langkah untuk
menindaklanjuti solusi tersebut
Dalam melaksanakan aspek-aspek tersebut seseorang
dipengaruhi oleh interaksi lingkungan sosial yang berlangsung disekitarnya,
dimana hal ini memerlukan kesadaran etis yang diperlukan dari proses sesorang
itu berpikir dan menyelesaikan masalah serta menciptakan suatu ide-ide baru.
PENUTUP
Kesimpulan
Kita perlu
mengembangkan IQ – menyangkut pengetahuan dan keterampilan, namun
kita juga harus dapat menampilkan EQ yang
sebaik-baiknya karena EQ harus dilatih.
Untuk meningkatkan kemampuan IQ dan EQ agar
supaya dapat memanfaatkan hati
nurani kita yang terdalam maka kita juga
harus membina SQ yang merupakan
cerminan hubungan kita dengan Sang
Pencipta melalui SQ kita dilatih
menggunakan ketulusan hati kita sehingga
mempertajam apa yang dapat kita
tampilkan.
Jadi perpaduan
antara IQ, EQ dan SQ inilah yang akan membina jiwa kita secara
utuh, sehingga kita dapat meniti karir
dengan baik, dimana akan lebih baik lagi jika
ditambahkan AQ (Adversity Quotient) yang
mengajarkan kepada kita bagaimana
dapat menjadikan tantangan bahkan ancaman
menjadi peluang. Jadi yang ideal
memang saudara harus mampu memadukan IQ,
EQ, SQ dan AQ dengan seimbang.
Comments
Post a Comment