Hijau, entah berwarna toska para daun
mungil itu atau hijau segar pucuk-pucuk selimut rerumputan itu, atau hijau
gelap pepohonan di hutan itu,. Entah
ditemani suara khas dari para serangga, atau aroma khas tanah berpadu
rumput, membuatmu serasa baru saja menemukan harta karun tersembunyi. Aku
mencintai tumpukan tanah, bau tanah, rerumputan, dedaunan, pepohonan, hutan,
rawa, semua hal yang mungkin kita dapatkan dibelakang rumah kita dulu, atau hal
–hal yang biasa dimainkan oleh anak-anak nakal era 90 an kebawah. Kuduga itu
hanyalah hobi terpendamku atau kebiasaan ku sejak kecil terbawa sampai saat
ini. Tapi itu semua adalah surga terpendam, ketika melihat pohon, tentu saja
bukan sekedar pohon yang kita amati, perhatikan lebih dekat lagi ada sarang
burung disana, ketika melihat seonggok bukit diseberang, tentu bukan hanya
komposisi tanah bebatuan yang bisa kita amati bisa ada sarang ular disana,
perhatikan lebih dekat lagi, terdapat banyak hal dan itu sudah lebih dari cukup
membuat kita berterima kasih pada Tuhan yang menciptakan semua itu, kekayaan
yang begitu besar alam ini.
Sudah bukan rahasia umum lagi kalo si admin blog ini adalah seorang otaku, hehe sebuah julukan yang sebernanya tidak masuk akal untuk dibanggakan, tapi entah kenapa persepsi untuk otaku di negeri asalnya jepang bertolak belakang dengan persepsi untuk otaku di Indonesia, disini siapapun yang menyukai atau bisa dibilang jatuh cinta pada anime, manga dkk bangga menyebut dirinya sebagai otaku. Sedangkan di jepang otaku diasosiasikan dengan tingkah-tingkah menyimpang yang keterlaluan, seperti mengurung diri dalam kamar seharian hanya untuk menonton anime saja, menghabiskan uang hanya untuk membeli semua pernak pernik yang berhubungan dengan anime atau manga yang digemari, bahkan berlomba-lomba mencari keluaran edisi paling baru, yeah kedengarannya saja sudah mengerikan, jadi wajar saja kalau otaku dijepang dipandang buruk oleh masyarakat disana. Yeah walau bagaimanapun, sebagai otaku atau bukan otaku toh menyukai anime itu sudah merupakan hobby sejak SMP, aku melewati sej...
Comments
Post a Comment